Labora, Kampung lama yang Hilang


Berbicara masalah sejarah, bagi sebagian orang bukan sesuatu yang mudah. Terutama untuk saya pribadi. Di mana sulitnya mendapatkan referensi, juga kurangnya narasumber yang mau berbagi. Wajar saja jika referensi dalam buku agak kurang (tidak ada sama sekali) karena sejarah Labora hanya kampung kecil yang sudah di tinggal penghuninya di mana dulunya merupakan kediaman orang tua serta keturunan orang tua saya ke atas. Alternative untuk bisa mengakses informasi tentang Labora tinggal cerita-cerita para orang tua yang masih hidup, namun itu tinggal beberapa orang saja dan mereka sudah dimakan usia.
Kampung Labora merupakan salah satu bagian dari Desa Oempu, Muna. Dulunya Desa Oempu terdiri dari beberapa kampung (Dusun untuk saat ini) yakni Labora, Laghulawi, Lemoambo dan Lapole. Kampung yang dikelilingi oleh gugusan batu gamping serta pantai menjadi salah satu keindahan tersendiri dari kampung ini.
Ada beberapa tempat yang menarik di kampung Labora yang bisa dijadikan tempat wisata (tidak pernah terpublish) di antaranya: Goa, tempat permandian yang dianggap keramat, tangga buatan zaman penjajahan yang tidak lapuk sampai sekarang. Uniknya lagi, tangga ini tidak menggunakan bantuan paku atau tali sebagai perekat pada anak tangganya.
Akibat kebijakan pemerintah pada tahun 1966 (kalau nda salah) wilayah Lapole (walengkabola) dipindahkan ke Maligano. Begitu juga dengan sebagian warga labora yang dulunya di wilayah ini krisis perekonomian sehingga memutuskan untuk pindah dari wilayah labora ke Tampunabale (lambelu)  termasuk kelurga dari Ibu saya.
Saat ini keluarga besar Labora tersebar ke beberapa daerah seperti Raha, Maligano, Tampunabale, Walengkabola, Kendari. Dan masih ada yang lainnya yang belum diketahui keberadaannya. Apalagi bagi mereka yang berprofesi sebagai perantau.
Begitulah sedikit historis dari kampung labora yang sempat saya dapatkan saat ini, saya sadari ini masih kurang. Butuh referensi tambahan untuk mengetahui lebih banyak. Mungkin ini menjadi PR saya untuk bisa mengumpulkan hostoris dari kampung labora itu sendiri sehingga kelak bisa di baca oleh generasi selanjutnya

~ooO Safaruddin Iyando Ooo~

5 komentar

  1. Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatu.
    Perkenalkan saya:
    Nama: Muhammad Tony
    Alamat: Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna. Sulawesi Tenggara, Indonesia.
    Kepada Anda dengan hormat izinkan saya mengajukan pertanyaan.

    Apakah status budak atau Ghata (bahasa muna) pada penduduk kampung labora itu gelar atau kegunaan yang diberikan oleh Allah Subhana Wata'la. Atau gelar yang diberikan oleh manusia yang kata mereka, "merekalah (kamilah) manusia atau keturunan manusia yang paling mulia di muka bumi". Tidakkah Allah SWT berfirman dalam ayat Al Qur'an bahwa manusia yang paling mulia dimuka bumi bahkan diakhirat kelak adalah mereka mereka manusia yang senantiasa beriman dan bertaqwa kepada-Nya (Allah SWT), dan mengamalkan apa yang telah diturunkan dan diajarkan Nabi Muhammad SAW. Yaitu Al Qur'an sebagai petunjuk bagi sekalian manusia di muka bumi. Bagaimana pendapat Anda tentang kasta terhadap manusia khususnya kasta "budak" pada sekalian manusia terkhusus masyarakat kampung Labora, kecamatan tongkuno, kabupaten muna, Sulawesi tenggara, Indonesia. ? Sekian dan terimakasih kasih atas perhatian Anda, Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung,
      mau konfirmasi kembali dari dapat pernyataan ini "Apakah status budak atau Ghata (bahasa muna) pada penduduk kampung labora"
      baca di mana maksud saya?

      Hapus
    2. Asalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatu. Perkenalkan saya Edi Hariono berasal dari Lakarinta kec. Lohia. Disini saya akan sedikit koreksi tentang nama budak atau Ghata dalam bahasa muna disini yang saya dapat dengar dalam cerita adat ataupun kedudukan suku Labora seperti yang ditanyakan oleh saudara Toni diatas bahwa nama budak atau Ghata memang ada dan mungkin benar dalam cerita adat atau kedudukan suku Labora tetapi yang harus anda tau bahwa pada dasarnya tidak semua suku Labora itu dikatakan Ghata atau budak dan itu hanya terdiri dari beberapa kelompok tertentu seperti yang saya dapat dengar dalam cerita adat suku Labora terdiri atas 2 sebutan dalam bahasa muna yaitu :
      1. Nando Labora Nibhorai dan
      ke
      2. Nando labhora fobhoraino.
      Dan ini gelar atau sebutan
      yang diberikan oleh
      orang-orang yang ada
      didalamnya mungkin karena
      ada alasan-alasan tertentu.
      karena pada zaman itu Masi zamannya kerajaan khususnya diberbagai macam suku yang ada dikabupaten muna kecamatan katobu waktu zaman Dulu. Mungkin seperti itu. Saya serakan kepada teman-teman yang lain untuk diluruskan yang mempunyai pengetahuan tentang sejara adat suku Labora saya persilakan dengan hormat.
      Asalam Alaikum warhmatulahi wabarakatu.

      Hapus
  2. Asalam alaikum warahmatullahi wabarakatu. Perkenalkan nama saya Edi Hariono dari Lakarinta kecamatan Lohia desa Lakarinta. Disini saya akan jawab dari pertanyaan saudara Toni kemungkinan nama budak atau Ghata dalam bahasa muna menurut saya nama Ghata ini bukan hanya ada dalam satu suku tetapi semua suku yang ada dikabupaten muna dan sebutan ini tidak ada hubungan dengan Allah SWT.
    Tetapi ini hanya gelar/sebutan yang diberikan oleh salah satu orang yang ada didalamnya mungikin karena ada alasan-alasan tertentu sehingga mendapatkan sebutan seperti itu. Karena pada zaman itu Masi samanya kerajaan sehingga muncul gelar atau sebutan paling renda derajatnya. Padahal bila dipikir zaman sekarang ini seiring dengan waktu dan berkembangnya ilmu teknologi manusia semakin sadar bahwa Dimata Tuhan manusia sama semua derajatnya.

    BalasHapus